Semua orang mendambakan anaknya mempunyai
sifat jujur dalam segala hal, sehingga saat dewasa nanti anak-anak akan
mempunyai karakter yang sangat baik dalam hidupnya. Kejujuran merupakan
karakter dan sifat positif yang wajib dimiliki setiap orang agar dalam
bersikap terhadap segala sesuatu dapat dipertanggung jawabkan secara
moral.
Ada wacana dalam dunia pendidikan akan dimasukkan kurikulum yang
bermuatan tentang kejujuran, hal ini dilakukan karena melihat fenomena
yang berkembang saat ini sangat sulit menemukan ‘orang jujur’ di negeri
ini. Indikasinya yang sangat mudah adalah semakin banyaknya para pejabat
kita yang melakukan tindak kejahatan korupsi di semua bidang.
Pertanyaannya, efektifkah bila ‘pendidikan kejujuran’ tersebut
dimasukkan dalam kurikulum? Bukankah orang-orang yang melakukan
‘kejahatan korupsi’ itu berpendidikan tinggi, bahkan banyak lulusan luar
negeri?
Pendidikan kejujuran tak harus masuk kurikulum, sebab kejujuran itu
adalah sifatnya sangat abstrak dan harus terbentuk dari proses yang
panjang. Banyak yang mempengaruhi seseorang bisa berlaku jujur, misalnya
keluarga, lingkungan pergaulan, kesempatan dan sistem. Seseorang hidup
di keluarga yang yang tidak jujur, bisa dipastikan dia akan menjadi
orang yang tidak jujur, begitu juga dengan lingkungan pergaulan yang
kebanyakan orang tidak jujur maka dia juga akan mempunyai sikap yang
tidak jujur. Sistem, orang yang mempunyai sifat jujur namun bekerja pada
sistem yang bobrok, ada kecenderungan/keharusan untuk tidak berlaku
jujur, maka dia akan terbawa/hanyut pada sistem tersebut.
Anak-anak sekarang banyak ‘terampas’ waktunya/kebebasannya oleh sistem
pendidikan formal, sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk bermain.
Para ahli pendidikan beranggapan bermain:permainan tidaklah penting dan
membuang-buang waktu, sehingga akan banyak mengganggu pendidikan
formalnya/nilainya jatuh dan sebagainya. Padahal tidak semua anggapan
itu benar. Banyak pemainan tradisional yang justru mengandung nilai
pendidikan yang sangat tinggi, terutama dalam pembentukan karakter dan
sifat positif dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu permainan tradisional yang bisa penulis hadirkan adalah
‘Bermain Kelereng’. Dalam permainan kelereng banyak pelajaran yang bisa
diambil untuk pembentukan karakter seseorang. Permainan kelereng ada
‘aturan’ yang harus ditaati selama permainan, aturan tersebut dibuat
berdasarkan kesepakatan kelompok yang harus ditaati oleh semua kelompok.
Aturan dibuat sendiri untuk ditaati sendiri, tidak seperti pejabat kita
yang bikin aturan sendiri tapi dilanggar sendiri. Manakala aturan
tersebut dilanggar oleh salah satu anggota kelompok permainan, maka
buyarlah permainan tersebut.
Pelajaran yang sangat menonjol dalam permainan kelereng tersebut adalah
nilai kejujuran, apabila ada salah satu anggota kelompok permainan
tersebut TIDAK JUJUR maka permainan dipastikan akan berakhir. Ternyata
pelajaran kejujuran tidak bisa hanya diteorikan semata di dalam kelas,
tapi harus langsung dipraktikkan, seperti dalam permainan kelereng
tersebut. Dalam permainan kelereng memberikan kesempatan bagi anak untuk
mengembangkan karakter dan sikap positif dalam segala aktifitasnya
terutama sifat kejujuran dan fairness. Kebiasaan bersikap dengan
nilai-nilai yang benar merupakan landasan yang kuat dalam menjalin
hubungan dengan orang lain di masa yang akan datang.
Hikmah yang bisa diambil dari permainan kelereng diantaranya:
1. Menanamkan nilai-nilai Kejujuran
2. Mengatur Emosi
3. Melatih Kemampuan Motorik
4. Melatih Kemampuan Berfikir/kecerdasan logis (kognitif)
5. Mengembangkan Kemampuan Sosial (berkelompok)
6. Kemampuan Berkompetisi-siap menang dan siap kalah
Bermain kelereng tidak sekedar bermain yang main-main? []